detikhealth

Kebiasaan Unik Albert Einstein yang Bisa Jadi Inspirasi Sehat

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 22/06/2017 19:48 WIB
Kebiasaan Unik Albert Einstein yang Bisa Jadi Inspirasi SehatFoto: Altervista
Jakarta, Mereka yang mempunyai IQ atau tingkat intelijensia di atas rata-rata biasanya juga memiliki kebiasaan aneh. Sebut saja pendiri Apple, Steve Jobs yang gemar memakai sweater hitam dalam berbagai kesempatan.

Menurut pakar, kebiasaan yang mereka miliki ini bukan semata kebiasaan. Sebuah penelitian baru menyebut 40 persen isi otak seseorang ditentukan oleh lingkungannya.

Artinya kebiasaan harian yang dimiliki seseorang berdampak kuat pada otaknya, baik dalam pembentukan strukturnya maupun pola pikir yang bersangkutan.

Bicara tentang jenius, tak ada salahnya kita menengok kebiasaan yang dimiliki fisikawan Albert Einsten. Bisa jadi dengan mengikuti kebiasaannya, otak kita akan terasah menjadi seperti miliknya.

Memangnya kebiasaan seperti apa yang dimiliki Einstein? Berikut paparannya seperti dilaporkan BBC, Kamis (22/6/2017).

Baca juga: Analisa Otak, Peneliti Ungkap Mengapa Albert Einstein Jenius

1. Tidur 10 jam
Tidur memang dikatakan baik untuk tumbuh kembang otak. Namun Einstein dilaporkan tidur hingga sedikitnya 10 jam dalam sehari.

Kabarnya, salah satu ide dari teori yang melejitkan nama Einstein, teori relativitas konon muncul ketika pria ini bermimpi tentang sapi-sapi yang disetrum. Tetapi benarkah demikian?

Saat tidur, otak seseorang memasuki serangkaian siklus dalam kurun 90-120 menit pertama. Siklus ini dimulai dari tidur ringan, tidur dalam dan fase yang dikaitkan dengan mimpi, REM (Rapid Eye Movement). Namun 60 persen tidur seseorang tidak sampai pada fase REM ini (fase tidur non-REM).

Menurut Stuart Fogel, ahli saraf dari University of Ottawa, tidur non-REM ditandai dengan munculnya semburan aktivitas otak yang cepat yang disebut 'spindle events' sebab bila dilihat dari EEG, fase ini diperlihatkan dalam bentuk gelombang berporos yang bergerak zigzag.

Menariknya, makin banyak 'spindle events' yang terjadi, itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki intelijensia yang lebih cair (fluid intelligence), kemampuan untuk menyelesaikan persoalan baru, menggunakan logika dalam menghadapi situasi baru dan mengidentifikasi pola-pola, tipe kecerdasan yang dimiliki Einstein.

"Fase ini sama sekali tidak terkait dengan tipe kecerdasan lain, seperti kemampuan mengingat fakta dan angka," tambah Fogel.

Di sisi lain, Einstein juga rutin tidur siang. Sebuah studi terbaru membuktikan bahwa tidur di malam hari bagi wanita dan tidur siang bagi pria sama-sama dapat meningkatkan kemampuan untuk memecahkan persoalan. Dan secara kebetulan, peningkatan kecerdasan pada orang-orang ini dikaitkan dengan adanya 'spindle events' dalam fase tidur mereka.

2. Jalan kaki
Saat masih bekerja di Princeton University, New Jersey, Einstein terbiasa jalan kaki sejauh 2 kilometer atau lebih saat pulang dan pergi. Ia mengikuti kebiasaan jenius lainnya, seperti Charles Darwin yang konon menghabiskan waktu sebanyak 3 kali 45 menit setiap hari untuk jalan kaki.

Kebiasaan ini bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan kebugaran tubuh, tetapi sudah banyak yang membuktikan bahwa jalan kaki meningkatkan daya ingat, kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Apalagi jika jalan kakinya dilakukan di luar ruangan.

Tanya mengapa? Jalan kaki dikatakan mampu meredam aktivitas salah satu bagian otak, yaitu frontal lobes yang diketahui berperan penting dalam menentukan daya ingat dan kemampuan bahasa. Ternyata dengan begini, otak dapat mengadopsi pola pikir yang sama sekali berbeda dengan biasanya, yang kemudian memicu kreativitas.

Foto: thinkstock


Baca juga: Ini Penjelasannya Orang Genius Gemar Pakai Baju yang 'Itu-itu' Saja

3. Makan spaghetti
Suatu ketika Einstein pernah mengatakan bahwa salah satu hal yang disukainya dari Italia adalah spaghetti. Tetapi apa hubungannya dengan kejeniusan Einstein? Otak diketahui menghabiskan 20 persen energi dalam tubuh meski beratnya tak lebih dari 2 persen. Padahal konon otak Einstein hanya seberat 1,230 gram atau lebih kecil dari berat otak rata-rata yaitu 1.400 gram.

Namun pada dasarnya otak lebih memilih 'bahan bakar' dari gula sederhana seperti glukosa, atau turunan dari karbohidrat. Sebab sel saraf di otak membutuhkan suplai terus-menerus dan hal ini bisa dipenuhi dengan cepat oleh gula.

Sayangnya, otak tidak memiliki mekanisme untuk menyimpan energi sehingga ketika 'bahan bakar' glukosa mereka habis, maka kemampuan otak juga akan menurun dengan cepat.

Leigh Gibson, pengajar psikologi dan fisiologi dari University of Roehampton mengatakan spaghetti bisa jadi 'bahan bakar' otak yang baik tetapi tidak dapat dikonsumsi secara berlebihan. "Riset membuktikan karbohidrat yang bermanfaat bagi tubuh itu hanya sebanyak 25 gram. Lebih dari itu, kemampuan otak Anda yang akan jadi korbannya," terangnya.

4. Tak pakai kaos kaki
Saat masih muda, Einstein menemukan fakta bahwa kaki yang besar akan membuat lubang di kaos kaki. Dari situ ia bertekad untuk berhenti memakai kaos kaki. Bahkan kemudian ia lebih suka memakai sandal tali milik sang istri, Elsa.

Kebiasaan tidak memakai kaos kaki sekilas tidak ada hubungannya dengan kejeniusan Einstein. Namun sejumlah studi menyebut ini menunjukkan cara berpakaian Einstein yang kasual. Padahal cara berpakaian kasual dikaitkan dengan rendahnya performa otak dalam pola pikir abstrak. Di sisi lain, ini sesuai dengan tipe kecerdasan Einstein yang lebih mengandalkan cara berpikir yang logis.

Terlepas dari itu, Einstein pernah berpesan dalam sebuah wawancara dengan majalah Life di tahun 1955. "Yang terpenting adalah jangan berhenti bertanya; sebab pasti ada alasannya mengapa rasa penasaran itu ada," tuturnya.

Baca juga: 5 Karakteristik Nyeleneh yang Dimiliki Orang Jenius (lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit