detikhealth

Konsultasi Umum
dr. Dito Anurogo

Penulis 17 buku dan sedang studi S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis FK UGM Yogyakarta.

Penyebab Leher Sakit Jika Ditekuk

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 05/05/2017 14:35 WIB
Penyebab Leher Sakit Jika DitekukFoto: thinkstock
Jakarta, Leher saya sakit kalau ditekut. Saat sakitnya kumat, selalu lama sembuhnya Dok. Namun saya sudah medical check up 2 kali. Pertama kolesterol, gula darah, tensi, diabetes normal, namun asam urat 7,7.

Pengecekan kedua, kolesterol 231, tensi rendah, gula darah normal. Padahal saya cukup rutin olahraga dan selalu menjaga pola makan. Secara genetik ortu saya tidak ada kolesterol. Apa penyebabnya?

Tri (Laki-laki, 25 tahun)

Jawaban

Leher sakit boleh jadi karena terlalu lama berada di depan komputer, posisi duduk yang tidak ergonomis, terlalu lama membaca, salah posisi saat tidur, sering terkena paparan angin atau AC. Jadi leher sakit tidak selalu disebabkan karena kolesterol tinggi.

Menurut pelbagai literatur medis, leher sakit boleh jadi disebabkan oleh karena

1. Penyakit inflamasi atau peradangan (seperti artritis reumatoid, spondiloartropati, juvenile reumatoid artritis, dsb)

2. Penyakit non-inflamasi atau bukan peradangan (misalnya osteoartritis servikal, nyeri leher diskogenik, fibromialgia atau nyeri miofasial, hiperostosis skeletal idiopatik difus, dsb)

3. Penyebab infeksius (contohnya meningitis, osteomielitis, diskitis infeksius, dsb)

4. Neoplasma atau keganasan (berupa primer atau metastasis)

5. Nyeri alih atau referred pain (semisal nyeri kardiak, nyeri sendi temporomandibular, iritasi diafragmatik, bersumberkan dari gastrointestinal berupa ulkus lambung, pankreas, kantung empedu)

Baiklah, sekarang kita bahas sedikit tentang kolesterol.

Kolesterol tinggi (lebih dari 200 mg/dL) di dunia kedokteran diistilahkan sebagai hiperkolesterolemia. Secara epidemiologi, kejadian hiperkolesterolemia ini meningkat sesuai usia. Kejadian pria sama dengan perempuan. Faktor risiko hiperkolesterolemia adalah kegemukan (BMI lebih dari 30 kg per meter perseg), kurang berolahraga, diet kaya akan lemak tersaturasi dan kolesterol, keturunan, dan genetik.

Yang dimaksudkan dengan faktor genetik ini bukan sekadar orangtua tidak punya riwayat hiperkolesterolemia, melainkan ada kelainan genetika pada diri seseorang.

Proses genetika yang terjadi pada kasus familial hiperkolesterolemia (FH) adalah disebabkan oleh defek pada gen yang mengkode reseptor LDL, dimana lebih dari 700 varian alel telah teridentifikasi. FH juga dapat merupakan hasil dari mutasi pada gen

apolipoprotein B-100 (APOB) atau gen proprotein convertase subtilisin/kexin tipe 9 (PCSK9). Sekadar diketahui, FH adalah gangguan lipoprotein yang tersering dijumpai (1 dari 500 populasi Kaukasian).

Diagnosis dini bermanfaat untuk mengurangi risiko terjadinya atherosclerosis. Uji atau screening anggota keluarga dari index case sangatlah efektif dari sisi pembiayaan (cost-effective).

Pencegahan secara umum, melakukan diet antikolesterol yang dianjurkan dokter, berolahraga secara teratur, perbanyak minum jus buah (naga, belimbing, timun, bengkuang, pir, anggur, apel, boleh dikombinasikan), mengatur berat badan. Tentunya semua ini memerlukan kepasrahan diri secara total kepada Allah. Sebab sumber penyakit itu bermula dari disfungsi hati, jiwa, pikiran, dan perut.

Dengan gaya dan pola hidup sehat, serasi, seimbang, selaras, maka niscaya tubuh kita senantiasa bugar dan terbebas dari semua keluhan dan penyakit.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dokter Dito Anurogo, penulis 18 buku, S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta.(hrn/vit)


 
Berita Terkait

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit