detikhealth
Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

Menghadapi Suami yang 'Dingin' dan Banyak Tuntutan

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 17/03/2017 15:46 WIB
Menghadapi Suami yang Dingin dan Banyak TuntutanFoto: Thinkstock
Jakarta, Dear Mbak Wulan, saya seorang istri dengan 3 anak. Saya sudah menikah selama lima tahun. Suami saya adalah seorang duda beranak satu, di mana anak suami ikut dengan saya.

Mbak selama lima tahun saya menikah dengan suami, saya merasa 'kesepian' dan 'kosong' batin saya. Suami saya sangat dingin, cuek, tidak peduli dan tidak perhatian dengan istri.

Bertahun-tahun saya mencoba untuk sabar dan memaklumi sikap suami, tapi semakin hari sikap suami semakin cuek. Saya seorang istri yang bekerja, kadang kala saya memiliki masalah, tertekan dan sedih. Ingin sekali ada suami sebagai tempat curahan hati saya.

Tapi ketika saya ajak bicara dia selalu fokus dengan gadget dan laptopnya. Saya sudah 'tegur' dan bilang ingin bicara tapi suami selalu bilang 'ngomong saja, saya dengerin'. Tapi gimana ya Mbak kalau pun suami mendengarkan saya tapi saya seperti bicara dengan 'tembok' tidak dihargai sama sekali, sementara mata suami fokus di gadget dan laptopnya.

Kalau saya marah dia akan memarahi saya. Ini yang membuat saya jadi tertutup, tidak terbuka dengan suami. Segala sesuatu saya ambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan suami, karena setiap diajak bicara suami selalu 'ogah-ogahan'.

Puncaknya saya protes dengan sikap dia yang dingin dengan bersikap marah-marah dan kasar. Tapi suami saya malah berselingkuh dengan wanita lain. Ketika saya mengetahui perselingkuhan suami, suami mengakui dan meminta maaf dan mengaku bahwa dia bersikap seperti itu karena pengaruh teman-temannya dan sikap saya yang selalu marah-marah dan kasar (kekurangan saya).

Saya maafkan perbuatan suami saya tapi bagaimana ya Mbak, rasa percaya saya terhadap suami makin memudar bahkan saya jadi curigaan terus dengan suami. Bahkan sikap saya yang seperti itu jadi bahan tertawaan teman-teman suami saya, tapi suami tidak pernah membela istrinya di depan teman-temannya.

Jujur Mbak, saya sakit hati, saya bekerja membantu suami bahkah saya urus anak-anaknya, termasuk anak tiri saya dengan baik tapi apa yang saya dapatkan? Saya berusaha membangun pernikahan saya susah payah tapi suami tidak pernah berubah. Dia selalu menuntut saya berubah dan introspeksi diri, tapi apa dia sadar apa yang keluar dari diri saya adalah cerminan dari sikap dia terhadap saya, bagaimana dia memperlakukan saya.

Saya cuma ingin sama-sama berubah baik dari sisi saya maupun suami, tapi suami selalu enggan diajak bicara. Beribu alasan dia utarakan mulai dari banyak kerjaan dan sebagainya.

Bahkan alasan dia waktu itu 'berpaling' karena badan saya yang gendut, dia menuntut saya untuk kurus dan kembali seperti waktu gadis. Itu salah satu alasan dia 'berpaling' karena tergoda cewek yang langsing dan lebih muda.

Mohon bantuannya Mbak karena saya mulai jenuh menjalani kehidupan pernikahan yang seperti ini, karena saya seperti tidak memiliki suami. Semuanya saya lakukan sendiri dan ketika saya salah sedikit, dia mulai 'berpaling' kepada wanita lain. Terimakasih.

D (Perempuan, 33 tahun)

Jawaban

Dear Ibu D,

Membangun kembali hubungan pernikahan setelah terjadinya perselingkuhan memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Jika saat ini Anda merasa lelah, jenuh, tidak berdaya, merasa bersalah, sulit untuk percaya, dsb. Hal tersebut merupakan respon alami yang muncul pasca perselingkuhan, terutama ketika Anda merasa sudah merasa memberikan yang terbaik untuk pasangan Anda.

Saat Anda bangun di pagi hari dan menginjak lantai, ucapkan terima kasih kepada diri Anda sendiri dan kepada Tuhan bahwa Anda saat ini masih bisa bangun dan bernafas, sesuatu yang mungkin sulit Anda lakukan secara sadar setelah mengetahui perselingkuhan suami Anda. Buat self-talk Anda sendiri, cari tiga kata yang menggambarkan diri dan menguatkan diri Anda. Misalnya, 'saya kuat', 'saya berharga', dst. Jadikan kata-kata tersebut sebagai 'mantra', terutama ketika Anda sedang merasa jatuh dan terpuruk. Awalnya tidak akan mudah, biasakan saja sesering mungkin dan Anda akan bisa merasakan perbedaannya.

Saya kurang memahami apa yang Anda lakukan yang menjadi bahan tertawaan teman-teman suami Anda. Namun, menurut Anda, hal yang Anda lakukan tersebut membuat Anda menjadi merasa lebih baik atau akhirnya semakin terpuruk? Kecurigaan pasca perselingkuhan memang biasa terjadi, sehingga terkadang pasangan melakukan hal-hal yang membuat dirinya justru semakin 'jatuh' terutama ketika tidak mendapatkan respon yang diharapkan dari pasangan. Misalnya, jadi terus menerus menghubungi suami dan mengecek keberadaannya, ketika tidak ditanggapi lalu merasa pasangan kembali berselingkuh, dsb.

Perselingkuhan biasanya terjadi karena adanya permasalahan dalam hubungan, baik yang disadari maupun tidak. Berdasarkan cerita Anda, memang ada permasalahan dalam hubungan Anda yang dapat berulang jika tidak diselesaikan. Masalah yang terlihat menonjol adanya pola komunikasi yang mengkritisi dan merendahkan, perbedaan harapan, yang akhirnya berpengaruh terhadap interaksi Anda berdua. Apapun kesalahan Anda, itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk perselingkuhan yang terjadi. Untuk itu, butuh komitmen dari kedua belah pihak untuk berhenti saling menyalahkan dan bersepakat bagaimana kelanjutan hubungan Anda berdua.

Jika Anda berdua memang bersepakat untuk melanjutkan, tidak berarti Anda berdua menutup masa lalu dan melupakannya begitu saja. Anda berdua justru perlu membahas hal-hal apa yang menyakitkan hati, agar tak terulang lagi. Perjelas harapan Anda masing-masing, bukan hanya mengungkapkan harapan umum seperti 'ingin memiliki suami yang lebih perhatian', namun 'saya merasa lebih didengarkan saat pasangan melihat ke arah saya ketika saya berbicara', dst.

Apabila sulit membahas dengan kepala dingin, cari bantuan dari ahli. Anda bisa menghubungi keluarga yang dituakan, pemuka agama, atau psikolog perkawinan/keluarga. Anda berdua bisa mulai dari menentukan tujuan bersama, mau dibawa ke mana perkawinan ini, apakah akan dilanjutkan atau tidak. Setelahnya perlu disepakati hal-hal yang perlu dan tidak perlu dilakukan oleh Anda berdua.

Jika suami tidak mau terbuka untuk melakukan perubahan yang diperlukan, tidak ada salahnya Anda memfokuskan kepada pemulihan luka dalam diri Anda sendiri. Beri diri Anda waktu untuk menjauh sementara waktu dari pasangan, luangkan waktu untuk berolahraga dan melakukan hal yang Anda sukai. Kalaupun Anda ingin menjadi lebih langsing, lakukan hal tersebut karena Anda ingin sehat dan terlihat lebih cantik, bukan semata-mata karena pasangan menginginkan Anda demikian. Ucapkan mantra yang sudah Anda ciptakan setiap kali Anda bercermin, atau sedang merasa 'jatuh', dsb. Anda juga bisa melakukan konseling individual, jika hal ini sudah mulai mengganggu aktivitas keseharian Anda.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit