detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

Dua Kali Cerai, Wanita Ini Diselimuti Rasa Trauma

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 03/03/2017 17:48 WIB
Dua Kali Cerai, Wanita Ini Diselimuti Rasa TraumaFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Di usia saya yang baru 30 tahun, saya sudah dua kali bercerai. Mantan suami semua sudah berkeluarga dan tampak bahagia dengan hidupnya. Sekarang setiap kali dekat dengan pria dan kemudian hubungan mengarah ke yang serius, saya selalu ketakutan. Saya takut bercerai lagi.

Untuk Mbak Wulan tahu, saya bercerai karena masalah finansial. Para mantan suami saya tidak bisa memberi nafkah secara baik, sehingga finansial keluarga bergantung pada saya. Awalnya saya tidak mempermasalahkan. Tapi lama-lama saya merasa seperti sapi perah. Suami saya tidak berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar.

Bukannya 'matre' ya Mbak, tapi saya takut juga nih jika menikah lagi kemudian suami saya bangkrut atau dipecat dari kerjanya, lagi-lagi saya yang harus menanggung semua. Gimana mengatasi ketakutan ini? Atau demi kebahagiaan lahir batin, saya tidak usah menikah lagi saja ya Mbak?

D (Perempuan, 30 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Dewi,

Dalam menjalin hubungan, memang terkadang ada peristiwa-peristiwa yang rentan mengingatkan kita akan trauma yang pernah dialami. Dalam kondisi seperti ini dan memaksakan untuk menjalin hubungan, apalagi menikah, sebetulnya malah lebih berisiko. Kita jadi bisa menjadi lebih mudah tertekan dan akhirnya lebih rentan bertengkar dengan pasangan. Padahal, bisa saja pertengkaran ini terjadi karena Anda sudah lelah beberapa kali mengalami hal yang sama di pernikahan sebelumnya. Pernikahan ini bukannya menghasilkan kebahagiaan, malah menciptakan ketidakbahagiaan.

Terkait bahwa Anda sudah dua kali mengalami kejadian yang sama, maka Anda perlu melakukan refleksi diri terlebih dahulu. Biasanya, kalau ada hal yang terjadi berulang berarti ada hal-hal yang kita lakukan yang akhirnya menarik pola yang sama, entah disadari atau tidak. Misalnya, selalu mendapatkan pasangan yang posesif meskipun tidak merasa nyaman. Setelah ditelusuri ternyata memang memiliki kebutuhan untuk diinginkan dan kasih sayang besar, posesif pasangan diartikan oleh bawah sadar sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan.

Pernikahan memang hal yang kompleks. Pemaknaan kebahagiaan dalam hubungan bukanlah berarti kita mengharapkan pasangan yang sempurna, namun menyiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan yang dipenuhi segala emosi dan tetap menyisipkan emosi bahagia di dalamnya. Coba deh, Anda evaluasi lagi apa saja sih yang Anda butuhkan dari sebuah hubungan? Kualitas seperti apa yang Anda cari sebenarnya dari pasangan? Kejadian apa yang berulang di pernikahan pertama dan kedua?

Salah satu cara menghilangkan ketakutan adalah belajar dari pengalaman masa lalu, untuk mengantisipasi kejadian serupa. Bagaimana jika Anda membuat janji dengan Psikolog Klinis Dewasa untuk membicarakan ketakutan dan memetakan masalah Anda? Jika Anda berhasil tuntaskan ketakutan sebelum memutuskan untuk menikah kembali, Anda masih punya kesempatan kok untuk mendapatkan yang bahagia.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit