detikhealth

Banyak Makan Yogurt Bisa Cegah Serangan Jantung

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 07/03/2012 08:58 WIB
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Manusia bergantung pada sejumlah besar mikroba agar tetap dapat bertahan hidup. Sistem pencernaan manusia sendiri merupakan rumah bagi sekitar 100 triliun mikroba. Mikroba bersahabat yang akrab disebut probiotik ini melindungi tubuh dari kuman, memecah makanan untuk melepaskan energi, dan menghasilkan vitamin.

Sebuah temuan dari John E. Baker, Ph.D., pakar bedah jantung di Medical College of Wisconsin di Milwaukee menunjukkan bahwa jenis dan tingkat bakteri usus dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan serangan jantung. Penelitiannya menunjukkan bahwa probiotik dapat melindungi jantung pasien yang menjalani operasi jantung dan angioplasti.

Penemuan yang dipublikasikan oleh jurnal FASEB ini dapat membuka kemungkinan tes diagnostik baru dan terapi yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati serangan jantung.

"Penemuan kami merupakan tonggak revolusioner dalam pencegahan dan pengobatan serangan jantung. Hubungan antara bakteri usus dan cedera jantung akan mengurangi risiko kematian akibat serangan jantung. Jika ditambah dengan penggunaan probiotik akan dapat meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan," kata Prof Baker seperti dilansie ScienceDaily, Selasa (6/3/2012).

Prof Baker dan rekan-rekannya memberikan perlakuan yang dapat memicu serangan jantung pada tiga kelompok tikus secara terpisah. Kelompok pertama diberi makanan biasa. Kelompok kedua diberi antibiotik vankomisin, dan kelompok ketiga memakan suplemen yang mengandung probiotik Lactobacillus plantarum, bakteri yang menekan produksi hormon leptin yang terkait dengan nafsu makan dan metabolisme.

Ternyata tikus yang diberi antibiotik juga menunjukkan penurunan kadar leptin. Kedua kelompok tikus yang memiliki kadar leptin rendah lebih jarang mengalami serangan jantung serius dan pulih lebih cepat.

"Kami mungkin tidak siap meresepkan yoghurt untuk mencegah serangan jantung, tapi penelitian ini memberikan kita pemahaman yang lebih baik bagaimana mikroba ini mempengaruhi respon tubuh terhadap cedera," kata Dr Gerald Weissmann, kepala editor jurnal FASEB.

Prof Jeremy Pearson, direktur medis asosiasi di British Heart Foundation, menekankan bahwa penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk menunjukkan apakah efek pada tikus ini akan berlaku untuk manusia juga. Usus manusia mengandung sekitar 1.500 spesies bakteri. Jumlah sebanyak ini menyebabkan kesulitan dalam mengontrol jumlahnya demi keperluan medis.

Memang ada produk yang mengklaim dapat memanipulasi jumlah bakteri, contohnya yogurt yang mengandung bakteri Lactobacillus hidup. Namun, para ahli masih belum banyak memahami bagaimana dapat melakukan hal ini secara nyata.



(pah/ir)
Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang!

Cerianya si Kecil saat liburan. Yuk, Abadikan Momen liburan anda bersama si Buah Hati dan menangkan hadiahnya di Sini




 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        


Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit