
-
Kamis 09/02/2012 18:55 WIB
Pria Ternyata Bisa Orgasme Berkali-kali Seperti Wanita -
Kamis 09/02/2012 17:03 WIB
Adakah Dampaknya Minum Pil Inex untuk Bercinta? -
Kamis 09/02/2012 17:58 WIB
Nyetir Jangan Seperti Pembalap, Nanti Saraf Gampang Kejepit -
Kamis 09/02/2012 18:26 WIB
Orang Republik yang Kolot Gampang Orgasme daripada Demokrat -
Kamis 09/02/2012 16:28 WIB
Bahan Herbal yang Bisa Jadi Obat Batuk Anak - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 1,408.000
-
Rp 857.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
It’s Really Or Not
Merawat adalah masalah kulit yang paling umum. Bukan hanya merusak penampilan, tapi juga berpotensi memicu krisis kepercayaan diri.
-
STOP Minum Air Mineral Dalam Kemasan!
ada cartinogen dalam plastik itu yang kalau kita konsumsi itu mengancam kita, bahaya bagi kesehatan manusia
» Thread Pilihan

Kamis, 09/02/2012 12:19 WIB
Benarkah Bercinta Dalam Air Tidak Bikin Hamil?
Posted : botenzorgArtikel terkait :
- Ciri Anak Disleksia Ketahuan Sebelum Anak Belajar Baca
- Mengurus Anak Juga Menjadi Urusan Ayah
- Polusi Udara Membahayakan IQ Bayi yang Belum Lahir
- Viagra untuk Anak Segera Dipatenkan
Info Penyakit :
Info Obat :
Mengomeli Anak Harus dengan Nada yang Indah
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Ilustrasi (Foto: medrounds.org)
Pemahaman hakikat anak, pengenalan proses tumbuh-kembangnya, serta pengertian mendalam tentang keunikan masing-masing anak, hanya dipahami terutama oleh orangtuanya dibanding pihak-pihak lain yang terkait dengan dunia pendidikan si kecil.
Sedangkan para guru sebagai pendidik di institusi pendidikan baik formal maupun nonformal merupakan kelanjutan dari pendidikan orangtua.
Tapi tanda disadari, banyak orangtua yang merupakan pendidik utama justru menerapkan cara pengajaran yang salah, misalnya dengan menjewer atau membentak.
"Tanpa disadari, sudah terjadi kekerasan dalam keluarga dengan ibu dan ayah yang suka menjewer atau membentak," tutur Dr Seto Mulyadi, M.Psi, Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, dalam acara Smart Parents Conference di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (31/7/2010).
Keluarga diharapkan bisa benar-benar kembali menjadi The School of Love, yang merupakan salah satu mata rantai terpenting dalam membangun pola asih, asah dan asuh, guna membentuk anak berkarakter positif.
Karena itu, menurut Kak Seto, kesanggupan para orangtua untuk mau berubah sesuai dengan paradigma baru dalam mendidik putra-putrinya, adalah prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
"Senyumlah ketika menghadapi anak. Mengomel boleh saja, tapi sampaikanlah dengan nada yang lebih indah, mengomel dengan menyanyi misalnya," tambah Kak Seto.
Selain itu, orangtua hendaknya mau melangsungkan komunikasi yang efektif dengan anak, serta memahami benar-benar hakikat anak, yakni:
1. Anak bukan miniatur orang dewasa
Artinya, anak memang bukanlah orang dewasa yang seolah ukuran badannya saja yang kecil (mini). Anak tetaplah anak, yang belum cukup memiliki kematangan dan masih banyak kekurangan serta kelemahan dibandingkan dengan orang dewasa.
2. Dunia anak adalah dunia bermain
Artinya, dunia anak pada dasarnya adalah dunia yang menyenangkan, yaitu bermain. Bermain mempunyai arti suatu kegiatan yang menyenangkan, tanpa paksaan dan tanpa suatu target yang ketat ataupun kaku. Jadi proses pembelajaran pada anak, hendaknya dilakukan melalui aktivitas yang benar-benar diwarnai suasana kegembiraaan.
3. Anak memiliki kecenderungan meniru
Artinya, apa yang dilakukan anak, banyak yang merupakan hasil peniruan terhadap apa yang terjadi di sekililingnya. Sehingga berbagai perilaku anak (apakah itu perilaku baik atau kurang baik), acapkali doambil dari perilaku orang-orang di sekitarnya (ayah, ibu, kakak, guru, teman dan lainnya). Itulah maka para ahli sependapat bahwa mendidik pada dasarnya adalah memberikan teladan dan bukannya sekedar memberi instruksi, memarahi apalagi menghukum.
4. Setiap anak itu unik
Artinya, masing-masing anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Karena itu, tidak semestinya membandingkan seorang anak dengan anak lain. Betapa pun itu saudara kandung atau bahkan saudara kembar sekalipun.
5. Anak berkembang secara bertahap
Artinya, setiap anak niscaya mengalami proses tumbuh dan kembang. Dan proses tersebut berlangsung secara tahap demi tahap, bukannya secara 'sekali-gebrak'.
Demikian pula proses pendidikan yang berlangsung di sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sudah saatnya untuk mengakhiri segala macam bentuk pembelajaran yang bersifat otoriter dan memasung pola pikir krea
(mer/ir)
BACA JUGA :

_4.gif)

---125x125.gif)





