-
Kamis 09/02/2012 18:55 WIB
Pria Ternyata Bisa Orgasme Berkali-kali Seperti Wanita -
Jumat 10/02/2012 06:53 WIB
Olahraga Berlebihan Bisa Bikin Kepala Cepat Botak -
Kamis 09/02/2012 17:03 WIB
Adakah Dampaknya Minum Pil Inex untuk Bercinta? -
Jumat 10/02/2012 07:39 WIB
Cara Asyik Menjaga Jantung Tetap Kuat -
Kamis 09/02/2012 17:58 WIB
Nyetir Jangan Seperti Pembalap, Nanti Saraf Gampang Kejepit - Indeks berita
Cari Obat & Penyakit
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Rancang Perjalananmu di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 1,408.000
-
Rp 600.000
Blog KesehatanDaftar blog | Login
-
It’s Really Or Not
Merawat adalah masalah kulit yang paling umum. Bukan hanya merusak penampilan, tapi juga berpotensi memicu krisis kepercayaan diri.
-
STOP Minum Air Mineral Dalam Kemasan!
ada cartinogen dalam plastik itu yang kalau kita konsumsi itu mengancam kita, bahaya bagi kesehatan manusia
» Thread Pilihan

Kamis, 09/02/2012 12:19 WIB
Benarkah Bercinta Dalam Air Tidak Bikin Hamil?
Posted : botenzorgArtikel terkait :
- Hidup Kesepian Naikkan Tekanan Darah
- Nasib Pria Azoospermia yang Sulit Menghamili Perempuan
- TBC dan DBD Masih Jadi Ancaman Serius
- Pengobatan Paling Efektif untuk Epilepsi
Info Penyakit :
Info Obat :
Jangan Anggap Remeh Darah di Urine
Vera Farah Bararah - detikHealth
Ilustrasi (Foto: unrc.ir)
Hematuria berarti ada darah dalam urine seseorang. Jika kondisi ini bisa terlihat dengan menggunakan mata maka disebut dengan makroskopik hematuria, sedangkan jika harus melalui mikroskop disebut dengan mikroskopik hematuria. Hematuria terjadi jika terdapat lebih dari 5 sel darah merah/lapang pandangan.
Darah yang terdapat dalam urine ini kemungkinan berkaitan dengan masalah di organ-organ yang berhubungan seperti ginjal, ureter (tabung yang mengangkut urin dari ginjal ke kandung kemih), kandung kemih, prostat dan uretra (tabung yang mengangkut urin keluar dari kandung kemih).
"Penyebab hematuria bisa akibat penyakit glomerular (penyakit ginjal akibat peradangan di glomerulus) atau penyakit non-glomerular. Namun banyak juga kasus hematuria yang tidak diketahui penyebabnya, hal ini menarik perhatian urolog ataupun dokter umum," ujar dr Ponco Birowo, SpU, PhD dalam acara KPPIK (Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran) FKUI di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (20/3/2010).
dr Ponco menuturkan masalah non-glomerular bisa diakibatkan olahraga, kontaminasi saat menstruasi dan hubungan seksual. Berdasarkan etiologi hematuria dapat muncul karena adanya trauma, batu, hyperplasia prostate, infeksi atau akibat mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti aminoglikosida, anticonvulsants, siklophospamida, quinine dan obat lainnya.
"Faktor risiko untuk hematuria adalah orang berusia 40 tahun atau lebih, merokok, pekerjaannya sering membuat ia terpapar bahan kimia, mengonsumsi obat tertentu atau pernah melakukan iradiasi tulang panggul," ungkap dokter yang mendalami bidang urologi di Jerman.
Sementara dr Fordaoessaleh, SpB, SpU(K) mengungkapkan hematuria itu ada 3 tipe yaitu:
1. Initial hematuria, jika darah yang keluar saat awal kencing.
2. Terminal hematuria, jika darah yang keluar saat akhir kencing. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya tekanan pada akhir kencing yang membuat pembuluh darah kecil melebar.
3. Total hematuria, jika darah keluar dari awal hingga akhir kencing. Hal ini kemungkinan akibat darah sudah berkumpul dari salah satu organ seperti ureter atau ginjal.
"Keluhan memegang peranan penting untuk menentukan ke arah mana pemeriksaan selanjutnya, seperti kapan terjadi hematuria, bagaimana nyerinya dan daerah mana yang terasa nyeri apakah di pinggang, perut bawah atau perut bagian tengah," ungkap dokter dari departemen urologi FKUI/RSCM.
Untuk mendiagnosis hematuria biasanya dilakukan tes urin dengan menggunakan dipstick, jika hasilnya positif terdapat darah maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mikroskop, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan cytology urine dan pemeriksaan fisik.
Jika dalam analisis urine ditemui adanya protein, nitrit atau leukosit, maka kemungkinan terjadi infeksi pada saluran urine (urine tract infection/UTI) yang bisa disebabkan oleh bakteri ataupun virus.
"Apabila penyebabnya tidak diketahui juga, maka harus terus di-follow up selama 6-36 bulan dengan pemeriksaan setiap 6-12 bulan sekali. Dan perawatan yang diberikan tergantung dari penyebabnya sehingga tidak ada pengobatan spesifik untuk hematuria,” ujar dr Ponco.
dr Fordaoessaleh menambahkan hematuria bisa menjadi indikasi adanya gangguan yang serius pada tubuh dan biasanya terjadi tanpa adanya gejala yang muncul sehingga sering diabaikan. Selain itu, mengonsumsi air putih yang banyak sehingga warna urinenya lebih jernih tidak bisa menyembuhkan hematur
(ver/ir)
BACA JUGA :
_4.gif)

---125x125.gif)





